Monday, August 14, 2006

test

Mitos Kebesaran NU Perlu Dipertanyakan Lagi

Mitos kebesaran organisasi kemasyarakatan Islam yang bernama Nahdlatul Ulama (NU) patut dipertanyakan kembali. Hal itu seiring dengan perjalanannya dari waktu ke waktu hingga saat ini, organisasi yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari ini justru paling konsisten mengalami kemunduran.
Mitos Kebesaran NU Perlu Dipertanyakan Lagi

Mitos kebesaran organisasi kemasyarakatan Islam yang bernama Nahdlatul Ulama (NU) patut dipertanyakan kembali. Hal itu seiring dengan perjalanannya dari waktu ke waktu hingga saat ini, organisasi yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari ini justru paling konsisten mengalami kemunduran.
Pernyataan itu diungkapkan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Mas’udi saat menghadiri peringatan Ulang Tahun (Ultah) Pondok Pesantren (Ponpes) Girikesumo, di Desa Girikusumo, Kecamatan Mranggen, Demak, Jawa Tengah, Minggu (13/8) kemarin.
Masdar, begitu mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ini akrab disapa, menyatakan era tahun 1900-an, 90 persen penduduk Indonesia adalah nahdliyin (sebutan untuk warga NU). Ia memprediksikan, sepuluh tahun ke depan, jumlahnya bisa jadi hanya 10 persen dari penduduk Indonesia.
"Dengan kondisi demikian, mitos kebesaran NU patut dipertanyakan lagi. Penyusutan nahdliyin ini jadi tantangan kita semua," kata Masdar di hadapan ribuan warga nahdliyyin yang juga turut hadir pada peringatan hari lahir ponpes pimpinan KH Munif Muhammad Zuhri itu.
Masdar menyebutkan, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada tahun 2004, orang yang mengaku sebagai NU hanya sekitar 41 persen. Jumlah itu, menurutnya, diprediksikan akan terus menurun.
Masdar menyitir beberapa kronik sejarah di mana posisi NU memegang peranan penting dalam kemerdekaan Indonesia. Saat kemerdekaan telah dicapai sementara penjajah Belanda masih berada di Indonesia, lanjutnya, sejumlah ulama berkumpul di Ponpes Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Mereka bersepakat menyatakan, perang meraih kemerdekaan adalah jihad.
"Satu bulan setelah resolusi jihad dikumandangkan, perlawanan rakyat bergelora di Surabaya. Kalau tidak diilhami resolusi ulama, mungkin semua itu tak akan terjadi," terang Direktur P3M (Pusat Pemberdayaan Pesantren dan Masyarakat) ini.
Pengalaman sejarah itu tak meninggalkan apa pun. Bahkan secara kontinyu dan konsisten NU terus mengalami kemunduran. Karena itu, lanjut Masdar, warga nahdliyin diharapkan segera menyadari posisinya.
Pernyataan Masdar itu terang saja membuat 3000-an warga nahdliyin tercenung. Tak banyak sorak-sorai tanda kemenangan seperti saat Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar—yang juga hadir pada kesempatan itu—memberikan sambutan. Beberapa petinggi PKB dan NU lainnya juga tampak pada acara tersebut, antara lain, Menakertrans Erman Suparno, anggota DPR-RI Masduki Baidlowi, Cecep Syarifudin, Wakil Gubernur Jawa Tengah Ali Mufiz, dan Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah Muhamad Adnan.


Read more!